Jamrin Abubakar
SOEKARNO, Proklamator, Presiden RI pertama,
yang lebih akrab disapa Bung Karno alias Si Bung dikenal sebagai revolusioner
yang nasionalis, negarawan yang orator, seniman yang budayawan, penulis yang
ulung, arsitek yang cemerlang dan berbagai sebutan pantas buatnya. Semua itu
umumnya orang sudah tahu. Tetapi Bung Karno sebagai seorang pemikir Islam, tak semua orang tahu. Justru pada
zaman kini, diua malah kerap dituduh sebagai seorang Marxis, mengingat ia
pernah mewacanakan suatu negara berdasarkan ideologi Nasakom (Nasionalisme,
Agama dan Komunisme).
Bung Karno sebagai intelektual
memiliki pemikiran multidimensi, salah satunya
tentang Islam yang sangat dalam, sekaligus “sekuler” [modernis?] yang pada zamannya kurang dipahami orang.
Sebab dalam berbagai ide, Bung Karno cenderung melampaui zaman, sering
dikesankan kontroversial, tetapi puluhan tahun kemudian, ide-idenya terbukti dapat diterima, dan banyak orang sepaham dengannya.
Kalau dalam istilah Clifford Gerzt,
sosiolog AS, bahwa Islam di Indonesia dalam hal ini Jawa dikenal adanya Islam
Abangan, Santri dan Priyai. Nah, dalam hal ini Bung Karno dapat di golongan
penggambungan antara seorang abangan-priyai. Beliau sangat dekat dengan rakyat
(abangan), meskipun dia dari kalangan priyai, tapi memiliki kedekatan dan pemahaman pada kelompok santri (Islam).
Meskipun tidak pernah menempa ilmu dalam
pendidikan pesantren formal, melainkan tempaan
pemikirannya didalami saat
pengembaraan intelektuanya dijalani
dari penjara ke penjara
Pemerintaha Hindia Belanda. Maka setiap mendekam dalam penjara kolonial
itulah dianggapnya sebagai “pesantren” untuk memperdalam dan mempertebal ilmu
dan iman. Diantaranya, “pesantren” Sukamiskin (Bandung), Endeh (Flores), dan
Bengkulu (Sumatra).
“Di dalam penjara, ini salah satu hikmah,
saya menjadi manusia yang percaya mati-matian kepada Allah dan Muhammad.
Kejadian di Brastagi mempertebal keimananku lagi,” kata Bung Karno dalam
riwayat hidupnya.
Bahkan sebelum menjalani tahanan, Bung
Karno sudah mengalami tempaan pemikiran Islam dari HOS. Tjokroaminoto (tempat
ia tinggal) saat sekolah Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya. Pada masa
inilah, ia banyak mendapat pelajaran agama Islam dari pendiri Syarikat Islam (SI), demikian halnya
dalam soal politik. Jadi HOS.
Tjokroaminoto itulah guru agama dan politik pertama Bung Karno, tempat
berdialog, bertanya dan selalu mengikuti ceramah/tablik akbar, sekaligus
kemudian menjadi anak menantu (istri pertama Bung Karno, Inggit Ganarsih,
adalah anak Tjokroaminoto). Kemudian menimbah pelajaran langsung dan tidak
langsung dari tokoh agama/pergerakan Islam lainnya, diantaranya; KH. Achmad
Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Hasyim Asya’ari (Pendiri NU). Selanjutnya
dalam perjalanan politik, ia banyak pula belajar Islam dari tokoh agama seperti;
KH. Mas Mansyur, Mohammad Natsir, Abu Hassan, dan beberapa tokoh yang
berpolemik dengannya.
Sewaktu pengasingan di Endeh, Bung
Karno banyak mendapat kiriman buku-buku Islam dari Abu Hassan, Ketua Persatuan
Islam Bandung, diantaranya berjudul; Utusan
Wahabi, Al-Mukhtar, Pengajaran Sahlat, Soal Jawab, Al-Burhan, Al-Jawahir, Hadis
Muslim dan Buchari (kedua hadis itu dianggap paling sahih) dan lain-lain.
Di Endeh inilah Bung Karno paling banyak belajar Islam dan mematangkan
pemikirannya dan merancang konsep tentang dasar negara Pancasila.
Islam
sekuler
Pemahaman intelektual Bung Karno terhadap Islam memang banyak yang meragukan,
mengingat keterbatasannya dalam Bahasa Arab (bahasa utama untuk mengkaji
Islam). Hal itu dapat dimaklumi, tetapi kemampuan penguasaan sejumlah bahasa
asing (internasional), dapat menolongnya melakukan pengkajian lewat terjemahan
buku-buku Islam karya intelektual dunia Islam.
Seperti karya-karya Ibnu Chaldun, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah,
Farid Wadjadi, Muhammad Ali, Syaid Amir Ali, Kwadja Kamaludin dan lain-lain.
Selain itu ia sangat giat melakukan kajian terhadap Al-Quran dan Hadis sebagai
sumber segala hal tentang Islam.
Dengan demikian, pemahaman Bung Karno
pada Islam, itu didapatkan dari dua “perguruan nonform+al”. Pertama, belajar
langsung pada tokoh-tokoh agama/pergerakan dengan dialog dan surat menyurat.
Kedua, melakukan riset (pengkajian) lewat bahan beragam dokumentasi tentang
Islam, baik sumber-sumber dari Timur maupun Barat.
Pemikiran Bung Karno sangat menarik,
sehingga menarik pula orang untuk
mengkajinya dan tak pernah usai dibicarakan. Diantara yang pernah
melakukan kajian, yaitu DR. Muhammad Ridwan Lubis, menulis disertasi dan
kemudian diterbitkan dengan judul; Pemikiran
Bung Karno Tentang Islam dan Unsur-Unsur Pembaharuannya Dan tahun 1963, H. Achamd Notosoerdjo telah menulis buku; Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan,
dan masih banyak lagi artikel/tulisan, termasuk skripsi yang mengupas pemikiran Bung Karno tentang Islam. Namun kedua buku itu sampai kini
menjadi acuan bagi mereka yang ingin memahami pemikiran agama sang proklamator.
Sedangkan untuk memahami/mengkaji
langsung pemikiran Islam sang kolektor
lukisan ini, dapat dibaca dalam kumpulan tulisan Bung Karno yang pernah
dipublikasikan di sejumlah majalah sejak 1926 yang terkumpul dalam buku; Di Bawah Bendera Revolusi (DBR). Buku ini terdiri dua jilid, dalam
jilid pertama itulah tercermin
pikiran-pikiran modernis Seokarno sejak muda mengenai dunia Islam yang masih
relevan dengan pemikiran cendekiawan muslim sekarang ini, dalam hal gagasannya
tentang pembaharuan Islam (modernisasi).
Diantara tulisan-tulisan dimaksud,
yaitu; Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Suluh Indonesia Muda 1925),
Surat-Surat Islam dari Ende (1934-1936), Me-”muda”-kan Pengertian Islam (1940),
Islam Sontoloyo (Panji Islam 1940), Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?
(Panji Islam 1940), Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Panji Islam 1940), Bloedtransfusie dan
Sebagain Kaum Ulama (Panji Islam 1941), Saya Kurang Dinamsis, dll.
Sejak
muda, Bung Karno sudah
berpolemik dengan tokoh-tokoh
agama terkemuka Indonesia sejak tahun 1930-1940-an, diantaranya dengan Sirajuddin
Abbas, Mohammad Natsir, Abu Hassan, Haji Agus Salim, Faizal Haq dan lainnya.
Dalam pemahaman Bung Karno, ia berpandangan bahwa antara agama dan negara harus
dipisahkan dan sama sekali tidak setuju dengan negara berlandaskan Islam. Sebab
hal ini dapat menimbulkan pepercahan
mengingat keberagaman agama yang dianut di Indonesia, sehingga yang
tepat adalah berlandaskan nasionalisme yang mampu mewadahi semua kepentingan.
Menurut pandangan Bung Karno dalam
Al-Quran dan Hadis Nabi sendiri tidak ada dijelaskan tentang konsep negara
Islam, melainkan dipahami sebagai negara yang Islami. Tidak heran kalau Bung
Karno sependapat dengan Bapak Pendiri Turki, Mustafa Kemal Attaturk (dikenal
sebagai sekuler) dalam pemisahan antara agama dan negara, tentunya “sekuler”
yang disesuaikan dengan kultur Indonesia. Gagasan yang ditulis tahun 1940 ini,
walaupun kenyataannya Indonesia tidak seperti Turki yang betul-betul sangat
sekuler. Tapi kemerdekaan beragama dan
pengakomodasian dasar bernegara di Indonesia (tidak hanya berdasarkan satu
agama) merupakan gagasan dan keinginan Bung Karno, juga beberapa tokoh
nonmuslim.
Nah ternyata, gagasan yang kini lebih
dikenal Pancasila itulah yang bertahan. Dari beberapa polemik, umumnya ide Bung
Karno dalam memandang Islam tidak disetujui (ditolak). Maklum, pada zaman
itu pandangannya dinilai kontroversial
atau melampaui zaman, tetapi kini terbukti apa yang digagas Bung Karno tentang
negara dan agama, dapat diterima. Begitu pula pemikiran “sekuler” tentang bagaimana memajukan umat Islam,
ternyata sekarang ini banyak cendekiawan muslim
berpandangan sama seperti gagasan yang telah diungkapkan puluhan tahun
silam.
Dalam mempelajari Islam, menurutnya
jangan hanya bertumpu pada kitab-kitab fiqh semata dan bukanlah satu hidup-mati
satunya tiang agama, melainkan perlu memiliki pemahaman lebih lanjut. Ia menandang, Fiqh bukanlah Islam
seluruhnya, tidaklah cukup mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati,
malah kadang-kadang berisi hal yang berlawanan. Karena itulah, kritik dan
tanggapan sering ditujukan pada ulama
yang cenderung kaku dan memandang suatu kitab secara hidup mati, sehingga jiwa Islam
terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi.
Begitu pula kesadaran sejarah para kiyai di Indonesia
(dulu?) sangat kurang, melainkan minat hanya ditujukan pada fiqh semata.
Padahal untuk memajukan Islam tidaklah demikian, melainkan harus berani
berpikir bebas dan merdeka dalam arti mampu berijtihad dan rasional.
Ketidakbebasan berpikir bagi sebagian kaum muslim (cendekiawan), maka kaum Islam yang Sontoloyo di mata Bung
Karno; fiqh bukan lagi menjadi petunjuk
dan pembatas hidup, fiqh kini
kadang-kadang menjadi penghalangnya perbuatan-perbuatan kaum Soontoolooyo!
“Dunia
Islam sekarang ini setengah mati, tiada
punya roh, tiada nyawa, tiada api, karena
Islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab-kitab fiqhnya” saja, tidak
terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup,” kata
Bung Karno, hlm: 495 DBR).
“Sekulerisme” pemikiran Bung Karno
dengan “kemerdekaan” diri dalam
mengkonteskan pengertian hukum-hukum Islam, betul-betul dijalaninya dan
kebebasan itu bukan berarti melakukan suatu perubahan, melainkan sekedar
memudakan pengertian atau pemahaman. “Pokok tidak berubah , agama tidak berubah,
Islam sejati tidak berubah, firman
Allah dan Sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal
inilah berubah. Pengertian itu selalu
ada, dan mesti selalu ada. Pengertian itulah hakikatnya semua
ijtihad, pengertian itulah hakikatnya
semua penyelidikan yang membawa kita kelapang kemajuan,” tulis Bung Karno
dalam artikel Me-”muda”-kan Pengertian Islam.
Karena itulah Bung Karno, sependapat
dengan Farid Wadjdi, bahwa agama Islam
hanyalah dapat berkembang betul, bilamana umat Islam memperhatiakan benar-benar
akan tiga buah sendi-sendinya, yaitu: kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan
kemerdekaan pengetahuan.
Pemikiran Bung Karno sangat berperspektif ke depan dan
beragam, yaitu tentang ketuhanan, peranan sains dalam memahami Al-Quran dan
Hadist, Islam dan perubahan sosial, soal tabir, Islam tentang kemanusiaan,
masalah riba dan bank, dan hubungan agama dan negara. Berbagai pandangannya tentang dunia Islam, memang tak menonjol dan
kurang diketahui, karena ia lebih dikenal sebagai proklamator, revolusioner,
demokrat, dan nasionalis.
Padahal, Bung Karno seorang manusia
religius, sangat peduli akan perkembangan dunia Islam yang dinilainya sangat
terkebelakang dan terkungkung. Keprihatinan
dengan lebih cepatnya gerakan Kristenisasi ketimbang Islam di Indonesia pada masanya,
dapat dikatakan Bung Karno sangat “cemburu” melihat itu. Karena itulah dalam
setiap tulisan dan pidato-pidatonya di setiap acara hari-hari besar Islam atau
dalam suatu kesempatan Muktamar Nahdatul Ulama (NU) dan Muktamar Muhammadiyah,
tak henti-hentinya menyampaikan
pemikiran-pemikiran baru yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi pembangunan
kemerdekaan roh, akal dan pengetahuan umat Islam.
Sedangkan dharma baktinya dalam
pembangunan Islam secara fisik, diantaranya berupa menggagas pendirian masjid terbesar di Asia Tenggara bernama
Istiglal (1961) yang artinya merdeka, sebagai cermin akan kebesaran,
mengingatkan setiap muslim dari seluruh
dunia yang berkunjung ke Jakarta. Selain itu, ia membangun Masjid Baitur Rahim
(1960) di sampaing Istana Merdeka. Pembangunan masjid monumental itu
(Istiqlal), tak lepas dari ilham yang diperolehnya saat kembali dari menunaikan ibadah haji tahun
1955.
Putra Sang Fajar Abad 20, lahir di
Blitar (Jatim) 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta 21 Juni 1970, dan dimakamkan di
Blitar. Sepanjang perjuangannya, menjadi tokoh dunia sangat dikagumi dan
disegani kawan dan lawan. Namun pada masanya berakhir juga. Bapak Pemimpin
Besar Revolusi (BPBR) itu mengalami kesurutan pamor sejak Tragedi Gestapu 1965.
Tragedi kemanusiaan itulah yang kemudian direkayasa Orba, seakan Bung Karno
terlibat di dalamnya. Padahal justru tragedi itu adalah bagian dari
penggulingan sang orator ini.
Fajar
Itu Bersinar Lagi
Menejelang senja, sang fajar
betul-betul terpuruk dalam segala hal. Orang-orang dekatnya dipaksa rezim baru
untuk tidak mendekati Bapak Bangsa Indonesia. Semangat hidupnya sedikit demi
sedikit meredup, dikungkung bangsa yang dimerdekankan sendiri hingga puluhan
tahun sepeninggalnya. Berbagai cara yang dilakukan Soeharto untuk melenyapkan
berbagai gagasan Marhaenisme (paham kerakyatan dan kesederhanaan dengan mengelola milik bangsa sendiri), adanya
tuduhan komunisme disebarkan, buku-buku Bung Karno dilenyapkan dan berbagai
cara keji.
Tapi ternyata diskriminasi itu tak
pernah berhasil, Soekarnoisme hidup
dalam sekam dan merasuk dalam sanubari
pengagumnya. Bukan saja orang sezaman sang, tapi juga generasi sesudahnya pun
mengagumi Bung Karno. Semua itu tak lepas dari kharisma yang dimiliki dan pemikiran yang diwariskan dalam
buku-buku yang ditulisnya; Menuju
Indonesia Merdeka, Di Bawah Bender Revolusi, dan Sarinah. Belum lagi ratusan buku-buku mengenai Bung Karno berbagai aspek kehidupan, beredar
sepanjang masa dan selalu menarik dibaca dan dianalisa, terutama anak-anak
muda.
Ketika menjelang senja Abad 20,
“suara” Bung Karno diredam oleh
penguasa, tapi kini sang fajar bersinar lagi menyambut Abda 21. Seakan
membenarkan kata-kata; “Aku mau hidup
seribu tahun lagi” kata Charil Anwar.
Cita-cita itu pun sangat tepat dan
relefan buat seorang Bung Karno. Sebab walau revolusioner romantis ini lahir
100 tahun silam dan wafat 31 tahun lalu,
bukan berarti ide-idenya terkubur bersama jasadnya. Jasad bisa hancur lebur
jadi tanah, tapi pemikiran-pemikiran yang ditinggalkan bernama Nasionalisme Indonesia yang tercermin
dalam Pancasila sebagai ideologi, akan hidup seribu tahun lagi. Dan Revolusi
Belum Berakhir. (Sebuah Catatan Peringatan 100 Tahun Bung Karno, dari berbagai sumber)