Kamis, 18 Agustus 2016

To Donggalaé
Menenun Masa Lampau dengan Cita Rasa Masa Depan

2, 3, 4 September 2016 di Kota Tua Donggala

 

Berawal dari tambatan perahu nelayan dan tempat persinggahan kapal-kapal tradisional untuk mengisi perbekalan air tawar, pelabuhan Donggala kemudian tumbuh dan berkembang menjadi salah satu pelabuhan penting di bagian timur Nusantara. Sejak tahun 1430 Donggala sudah dikenal sebagai pelabuhan yang memperdagangkan hasil bumi seperti kopra, damar, kemiri dan ternak sapi. Kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru Nusantara dan belahan dunia lainnya, melabuhkan sauh dan membongkar muatannya di pelabuhan ini. 

Namun, sejak operasional Pelabuhan Donggala dipindahkan ke Pelabuhan Pantoloan pada tahun 1978, kehidupan sosial-ekonomi-kultural Kota Donggala menyurut secara dramatis. Kejayaan Kota Donggala sebagai salah satu kota pelabuhan penting dalam sejarah kemaritiman di Nusantara ini lalu meredup. Kejayaan kota pelabuhan ini di masa lampau kini hanya menyisakan warisan sejarah kota berupa bangunan-bangunan tua dari era kolonial yang juga sedang menghadapi kehancurannya karena tidak terawat dan lapuk oleh usia serta berbagai rencana pembongkaran atau pembangunan fasilitas kota lainnya. Fenomena ini adalah ancaman kehancuran bagi sejarah ruang arsitektur serta nilai historis filosofis bangunan dan kawasan bersejarah tersebut. Ingatan kolektif sejarah yang menjadi cerminan masa depan dari kehidupan masyarakat kota ini turut mengabur. Secara perlahan, kota pelabuhan ini mulai kehilangan identitas kulturalnya.

Sadar dan memahami kondisi tersebut, pada tahun 2015 Dewan Kesenian Donggala dan Donggala Heritage telah menggelar sebuah bertajuk Donggala Heritage sebagai perayaan bagi warisan sejarah kota dan budaya urban di Kota Tua Donggala. Program ini didasari keyakinan bahwa identitas Kota Donggala dengan karakteristik urban yang khas adalah milik paling berharga dari kota pelabuhan ini dan karenanya perlu diselamatkan, dilestarikan dan dikembangkan. Melanjutkan apa yang telah dilaksanakan pada tahun 2015 itu, Dewan Kesenian Donggala dan Donggala Heritage bekerjasama dengan Yayasan Kelola (Jakarta) dan PeerGrouP Locatietheater Noord-Nederland (Belanda) dengan dukungan Kedutaan Besar Belanda dan Fonds Podium Kunsten Performing Arts Fund NL, kembali menggelar perayaan budaya yang bertajuk : To Donggalaé.

Mewujudkan event budaya yang akan digelar pada tanggal 2, 3, 4 September 2016 Pukul 16:30 s/d 23:00 Wita ini, para seniman dan pakar heritage asal Belanda dan Yogyakarta telah bekerja selama sebulan penuh bersama para seniman, pelajar dan masyarakat di Kota Tua Donggala. Berbagai program kegiatan seni budaya yang memberdayakan potensi estetika publik sebagai cerminan dari warisan sejarah kultural Kota Donggala akan digelar dalam event ini. Hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan dampak positif sosial, ekonomi dan kultural dari event ini bagi masyarakat Kota Donggala. Pilihan lokasi event yang berada di salah satu kawasan di tengah Kota Tua Donggala ini juga ditujukan untuk mendorong apresiasi dan partisipasi kalangan muda, seniman dan masyarakat dalam upaya pelestarian dan konservasi warisan kultural di kawasan Kota Tua Donggala.

Di banyak kota-kota pelabuhan di Nusantara Pasar Malam adalah bagian dari sejarah budaya yang tumbuh dan berkembang melalui interaksi sosial-ekonomi-kultural di tengah masyarakat. Dalam prakteknya di tengah masyarakat Kota Donggala di masa lalu, Pasar Malam tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekonomi semata, namun telah tumbuh dan berkembang menjadi ruang interaksi sosial budaya dimana masyarakat bertemu dan menyatakan diri mereka. Pemikiran tersebut kemudian mendasari pilihan konsep Pasar Malam tersebut menjadi konsep artistik pelaksanaan event budaya To Donggalaé ini. Konsep Pasar Malam ini diterjemahkan dan diaplikasikan dalam bentuk-bentuk karya seni pertunjukan dimana masyarakat menjadi bagian dan pelaku dari interaksi budaya event ini.
Selama tiga hari pelaksanaan event budaya To Donggalaé, beberapa program dan kegiatan akan digelar, antara lain : Site-specific TheaterVideo Screening - hasil lokakarya video dengan Pelajar SMKN 1 BanawaPanggung-panggung Kecil Aspirasi Masyarakat, Pameran Gambar Anak-Anak DonggalaPenjualan Makanan dan Minuman Khas DonggalaKaraoke Corner, Selfie-Booth, Instalasi Video dan Kompetisi Foto Instagram #todonggalae.

Melalui event To Donggalaé ini diharapkan dapat mendorong kawasan Kota Tua Donggala menjadi destinasi pariwisata budaya di Kabupaten Donggala dan Provinsi Sulawesi Tengah. Melalui event budaya ini diharapkan menjadi awal bagi hadirnya sebuah Museum Komunitas dan kawasan kreatif di Kota Donggala serta mewujudkan suatu rencana strategis dan program bagi pelaksanaan preservasi dan konservasi bangunan tua dan kawasan sejarah di Kota Tua Donggala.*

Egbert Wits                                                                             Zulkifly Pagessa
(Yayasan Kelola)                                                                    (Donggala Heritage)



Kamis, 03 Maret 2016

BUNG KARNO Mencari dan Menemukan Tuhan

Jamrin Abubakar


SOEKARNO, Proklamator, Presiden RI pertama, yang lebih akrab disapa Bung Karno alias Si Bung dikenal sebagai revolusioner yang nasionalis, negarawan yang orator, seniman yang budayawan, penulis yang ulung, arsitek yang cemerlang dan berbagai sebutan pantas buatnya. Semua itu umumnya orang sudah tahu. Tetapi Bung Karno sebagai seorang pemikir  Islam, tak semua orang tahu. Justru pada zaman kini, diua malah kerap dituduh sebagai seorang Marxis, mengingat ia pernah mewacanakan suatu negara berdasarkan ideologi Nasakom (Nasionalisme, Agama dan Komunisme).

Bung Karno sebagai intelektual memiliki pemikiran multidimensi, salah satunya  tentang Islam yang sangat dalam, sekaligus “sekuler” [modernis?] yang pada zamannya kurang dipahami orang. Sebab dalam berbagai ide, Bung Karno cenderung melampaui zaman, sering dikesankan   kontroversial, tetapi  puluhan tahun kemudian,    ide-idenya terbukti  dapat diterima, dan  banyak orang sepaham dengannya.

Kalau dalam istilah Clifford Gerzt, sosiolog AS, bahwa Islam di Indonesia dalam hal ini Jawa dikenal adanya Islam Abangan, Santri dan Priyai. Nah, dalam hal ini Bung Karno dapat di golongan penggambungan antara seorang abangan-priyai. Beliau sangat dekat dengan rakyat (abangan), meskipun dia dari kalangan priyai, tapi  memiliki kedekatan dan  pemahaman pada kelompok santri (Islam). Meskipun tidak pernah  menempa ilmu dalam pendidikan pesantren formal, melainkan tempaan  pemikirannya didalami  saat pengembaraan intelektuanya dijalani   dari penjara ke penjara  Pemerintaha Hindia Belanda. Maka setiap mendekam dalam penjara kolonial itulah dianggapnya sebagai “pesantren” untuk memperdalam dan mempertebal ilmu dan iman. Diantaranya, “pesantren” Sukamiskin (Bandung), Endeh (Flores), dan Bengkulu (Sumatra).

“Di dalam penjara, ini salah satu hikmah, saya menjadi manusia yang percaya mati-matian kepada Allah dan Muhammad. Kejadian di Brastagi mempertebal keimananku lagi,” kata Bung Karno dalam riwayat hidupnya.

Bahkan sebelum menjalani tahanan, Bung Karno sudah mengalami tempaan pemikiran Islam dari HOS. Tjokroaminoto (tempat ia tinggal) saat sekolah Hoogere Burger School (HBS) di Surabaya. Pada masa inilah, ia banyak mendapat pelajaran agama Islam dari  pendiri Syarikat Islam (SI), demikian halnya dalam soal politik.  Jadi HOS. Tjokroaminoto itulah guru agama dan politik pertama Bung Karno, tempat berdialog, bertanya dan selalu mengikuti ceramah/tablik akbar, sekaligus kemudian menjadi anak menantu (istri pertama Bung Karno, Inggit Ganarsih, adalah anak Tjokroaminoto). Kemudian menimbah pelajaran langsung dan tidak langsung dari tokoh agama/pergerakan Islam lainnya, diantaranya; KH. Achmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Hasyim Asya’ari (Pendiri NU). Selanjutnya dalam perjalanan politik, ia banyak pula belajar Islam dari tokoh agama seperti; KH. Mas Mansyur, Mohammad Natsir, Abu Hassan, dan beberapa tokoh yang berpolemik dengannya.

Sewaktu pengasingan di Endeh, Bung Karno banyak mendapat kiriman buku-buku Islam dari Abu Hassan, Ketua Persatuan Islam Bandung, diantaranya berjudul; Utusan Wahabi, Al-Mukhtar, Pengajaran Sahlat, Soal Jawab, Al-Burhan, Al-Jawahir, Hadis Muslim dan Buchari (kedua hadis itu dianggap paling sahih) dan lain-lain. Di Endeh inilah Bung Karno paling banyak belajar Islam dan mematangkan pemikirannya dan merancang konsep tentang dasar negara Pancasila.

Islam sekuler
Pemahaman intelektual Bung Karno  terhadap Islam memang banyak yang meragukan, mengingat keterbatasannya dalam Bahasa Arab (bahasa utama untuk mengkaji Islam). Hal itu dapat dimaklumi, tetapi kemampuan penguasaan sejumlah bahasa asing (internasional), dapat menolongnya melakukan pengkajian lewat terjemahan buku-buku Islam karya intelektual dunia Islam.  Seperti karya-karya Ibnu Chaldun, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ibnu Taimiyah, Farid Wadjadi, Muhammad Ali, Syaid Amir Ali, Kwadja Kamaludin dan lain-lain. Selain itu ia sangat giat melakukan kajian terhadap Al-Quran dan Hadis sebagai sumber segala hal tentang Islam.

Dengan demikian, pemahaman Bung Karno pada Islam, itu didapatkan dari dua “perguruan nonform+al”. Pertama, belajar langsung pada tokoh-tokoh agama/pergerakan dengan dialog dan surat menyurat. Kedua, melakukan riset (pengkajian) lewat bahan beragam dokumentasi tentang Islam, baik sumber-sumber dari Timur maupun Barat.

Pemikiran Bung Karno sangat menarik, sehingga menarik pula orang untuk  mengkajinya dan tak pernah usai dibicarakan. Diantara yang pernah melakukan kajian, yaitu DR. Muhammad Ridwan Lubis, menulis disertasi dan kemudian diterbitkan dengan judul; Pemikiran Bung Karno Tentang Islam dan Unsur-Unsur Pembaharuannya Dan tahun 1963, H. Achamd Notosoerdjo telah menulis buku; Bung Karno Mencari dan Menemukan Tuhan, dan masih banyak lagi artikel/tulisan, termasuk skripsi yang mengupas  pemikiran Bung Karno  tentang Islam. Namun kedua buku itu sampai kini menjadi acuan bagi mereka yang ingin memahami pemikiran agama sang proklamator.

Sedangkan untuk memahami/mengkaji langsung  pemikiran Islam sang kolektor lukisan ini, dapat dibaca dalam kumpulan tulisan Bung Karno yang pernah dipublikasikan di sejumlah majalah sejak 1926 yang terkumpul dalam buku; Di Bawah Bendera Revolusi (DBR). Buku ini terdiri dua jilid, dalam jilid pertama itulah tercermin pikiran-pikiran modernis Seokarno sejak muda mengenai dunia Islam yang masih relevan dengan pemikiran cendekiawan muslim sekarang ini, dalam hal gagasannya tentang pembaharuan Islam (modernisasi).

Diantara tulisan-tulisan dimaksud, yaitu; Nasionalisme, Islamisme, Marxisme (Suluh Indonesia Muda 1925), Surat-Surat Islam dari Ende (1934-1936), Me-”muda”-kan Pengertian Islam (1940), Islam Sontoloyo (Panji Islam 1940), Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara? (Panji Islam 1940), Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal  Udara (Panji Islam 1940), Bloedtransfusie dan Sebagain Kaum Ulama (Panji Islam 1941), Saya Kurang Dinamsis, dll.

Sejak  muda, Bung Karno sudah  berpolemik  dengan tokoh-tokoh agama terkemuka Indonesia sejak tahun 1930-1940-an, diantaranya dengan Sirajuddin Abbas, Mohammad Natsir, Abu Hassan, Haji Agus Salim, Faizal Haq dan lainnya. Dalam pemahaman Bung Karno, ia berpandangan bahwa antara agama dan negara harus dipisahkan dan sama sekali tidak setuju dengan negara berlandaskan Islam. Sebab hal ini dapat menimbulkan pepercahan  mengingat keberagaman agama yang dianut di Indonesia, sehingga yang tepat adalah berlandaskan nasionalisme yang mampu mewadahi semua kepentingan.

Menurut pandangan Bung Karno dalam Al-Quran dan Hadis Nabi sendiri tidak ada dijelaskan tentang konsep negara Islam, melainkan dipahami sebagai negara yang Islami. Tidak heran kalau Bung Karno sependapat dengan Bapak Pendiri Turki, Mustafa Kemal Attaturk (dikenal sebagai sekuler) dalam pemisahan antara agama dan negara, tentunya “sekuler” yang disesuaikan dengan kultur Indonesia. Gagasan yang ditulis tahun 1940 ini, walaupun kenyataannya Indonesia tidak seperti Turki yang betul-betul sangat sekuler. Tapi  kemerdekaan beragama dan pengakomodasian dasar bernegara di Indonesia (tidak hanya berdasarkan satu agama) merupakan gagasan dan keinginan Bung Karno, juga beberapa tokoh nonmuslim.

Nah ternyata, gagasan yang kini lebih dikenal Pancasila itulah yang bertahan. Dari beberapa polemik, umumnya ide Bung Karno dalam memandang Islam tidak disetujui (ditolak). Maklum, pada zaman itu  pandangannya dinilai kontroversial atau melampaui zaman, tetapi kini terbukti apa yang digagas Bung Karno tentang negara dan agama, dapat diterima. Begitu pula pemikiran “sekuler”  tentang bagaimana memajukan umat Islam, ternyata sekarang ini banyak cendekiawan muslim  berpandangan sama seperti gagasan yang telah diungkapkan puluhan tahun silam.

Dalam mempelajari Islam, menurutnya jangan hanya bertumpu pada kitab-kitab fiqh semata dan bukanlah satu hidup-mati satunya tiang agama, melainkan perlu memiliki pemahaman lebih lanjut.   Ia menandang, Fiqh bukanlah Islam seluruhnya, tidaklah cukup mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati, malah kadang-kadang berisi hal yang berlawanan. Karena itulah, kritik dan tanggapan sering  ditujukan pada ulama yang cenderung kaku dan memandang suatu kitab secara hidup mati, sehingga jiwa Islam terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi.

Begitu pula  kesadaran sejarah para kiyai di Indonesia (dulu?) sangat kurang, melainkan minat hanya ditujukan pada fiqh semata. Padahal untuk memajukan Islam tidaklah demikian, melainkan harus berani berpikir bebas dan merdeka dalam arti mampu berijtihad dan rasional. Ketidakbebasan berpikir bagi sebagian kaum muslim (cendekiawan),  maka kaum Islam yang Sontoloyo di mata Bung Karno; fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalangnya perbuatan-perbuatan kaum Soontoolooyo!

Dunia Islam  sekarang ini setengah mati, tiada punya roh, tiada nyawa, tiada api, karena  Islam sama sekali tenggelam di dalam “kitab-kitab fiqhnya” saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya agama yang hidup,” kata Bung Karno, hlm: 495 DBR).

“Sekulerisme” pemikiran Bung Karno dengan “kemerdekaan” diri  dalam mengkonteskan pengertian hukum-hukum Islam, betul-betul dijalaninya dan kebebasan itu bukan berarti melakukan suatu perubahan, melainkan sekedar memudakan pengertian atau pemahaman.  “Pokok tidak berubah , agama tidak berubah, Islam sejati tidak berubah, firman Allah dan Sunnah Nabi tidak berubah, tetapi pengertian manusia tentang hal-hal inilah berubah. Pengertian itu selalu  ada, dan mesti selalu ada. Pengertian itulah hakikatnya semua ijtihad,  pengertian itulah hakikatnya semua penyelidikan yang membawa kita kelapang kemajuan,” tulis Bung Karno dalam artikel Me-”muda”-kan Pengertian Islam.
Karena itulah Bung Karno, sependapat dengan Farid  Wadjdi, bahwa agama Islam hanyalah dapat berkembang betul, bilamana umat Islam memperhatiakan benar-benar akan tiga buah sendi-sendinya, yaitu: kemerdekaan roh, kemerdekaan akal, dan kemerdekaan pengetahuan.

Pemikiran  Bung Karno sangat berperspektif ke depan dan beragam, yaitu tentang ketuhanan, peranan sains dalam memahami Al-Quran dan Hadist, Islam dan perubahan sosial, soal tabir, Islam tentang kemanusiaan, masalah riba dan bank, dan hubungan agama dan negara.  Berbagai pandangannya   tentang dunia Islam, memang tak menonjol dan kurang diketahui, karena ia lebih dikenal sebagai proklamator, revolusioner, demokrat, dan nasionalis.

Padahal, Bung Karno seorang manusia religius, sangat peduli akan perkembangan dunia Islam yang dinilainya sangat terkebelakang dan terkungkung. Keprihatinan  dengan lebih cepatnya gerakan Kristenisasi  ketimbang Islam di Indonesia pada masanya, dapat dikatakan Bung Karno sangat “cemburu” melihat itu. Karena itulah dalam setiap tulisan dan pidato-pidatonya di setiap acara hari-hari besar Islam atau dalam suatu kesempatan Muktamar Nahdatul Ulama (NU) dan Muktamar Muhammadiyah, tak henti-hentinya  menyampaikan pemikiran-pemikiran baru yang menjadi inspirasi dan motivasi bagi pembangunan kemerdekaan roh, akal dan pengetahuan umat Islam.

Sedangkan dharma baktinya dalam pembangunan Islam secara fisik, diantaranya berupa  menggagas pendirian  masjid terbesar di Asia Tenggara bernama Istiglal (1961) yang artinya merdeka, sebagai cermin akan kebesaran, mengingatkan  setiap muslim dari seluruh dunia yang berkunjung ke Jakarta. Selain itu, ia membangun Masjid Baitur Rahim (1960) di sampaing Istana Merdeka. Pembangunan masjid monumental itu (Istiqlal), tak lepas dari ilham yang diperolehnya saat  kembali dari menunaikan ibadah haji tahun 1955.
Putra Sang Fajar Abad 20, lahir di Blitar (Jatim) 6 Juni 1901 dan wafat di Jakarta 21 Juni 1970, dan dimakamkan di Blitar. Sepanjang perjuangannya, menjadi tokoh dunia sangat dikagumi dan disegani kawan dan lawan.   Namun  pada masanya berakhir juga. Bapak Pemimpin Besar Revolusi (BPBR) itu mengalami kesurutan pamor sejak Tragedi Gestapu 1965. Tragedi kemanusiaan itulah yang kemudian direkayasa Orba, seakan Bung Karno terlibat di dalamnya. Padahal justru tragedi itu adalah bagian dari penggulingan sang orator ini.

Fajar Itu Bersinar Lagi
Menejelang senja, sang fajar betul-betul terpuruk dalam segala hal. Orang-orang dekatnya dipaksa rezim baru untuk tidak mendekati Bapak Bangsa Indonesia. Semangat hidupnya sedikit demi sedikit meredup, dikungkung bangsa yang dimerdekankan sendiri hingga puluhan tahun sepeninggalnya. Berbagai cara yang dilakukan Soeharto untuk melenyapkan berbagai gagasan Marhaenisme (paham kerakyatan dan kesederhanaan dengan  mengelola milik bangsa sendiri), adanya tuduhan komunisme disebarkan, buku-buku Bung Karno dilenyapkan dan berbagai cara keji.

Tapi ternyata diskriminasi itu tak pernah  berhasil, Soekarnoisme hidup dalam sekam dan  merasuk dalam sanubari pengagumnya. Bukan saja orang sezaman sang, tapi juga generasi sesudahnya pun mengagumi Bung Karno. Semua itu tak lepas dari kharisma yang dimiliki dan pemikiran yang diwariskan dalam buku-buku yang ditulisnya; Menuju Indonesia Merdeka, Di Bawah Bender Revolusi, dan Sarinah. Belum lagi  ratusan buku-buku mengenai  Bung Karno berbagai aspek kehidupan, beredar sepanjang masa dan selalu menarik dibaca dan dianalisa, terutama anak-anak muda.

Ketika menjelang senja Abad 20, “suara” Bung Karno  diredam oleh penguasa, tapi kini sang fajar bersinar lagi menyambut Abda 21. Seakan membenarkan kata-kata; “Aku mau hidup seribu tahun lagi” kata Charil Anwar.


Cita-cita itu pun sangat tepat dan relefan buat seorang Bung Karno. Sebab walau revolusioner romantis ini lahir 100 tahun silam dan  wafat 31 tahun lalu, bukan berarti ide-idenya terkubur bersama jasadnya. Jasad bisa hancur lebur jadi tanah, tapi pemikiran-pemikiran yang ditinggalkan  bernama Nasionalisme Indonesia yang tercermin dalam Pancasila sebagai ideologi, akan hidup seribu tahun lagi. Dan Revolusi Belum Berakhir. (Sebuah Catatan Peringatan 100 Tahun Bung Karno, dari berbagai sumber)

Senin, 19 Agustus 2013

SANG TADULAKO Sehimpun Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

Penulis   : Jamrin Abubakar
Tebal       : xii + 102 halaman
Penerbit : Ladang Pustaka, Yogyakarta, 2013
ISBN       : 978-602-18231-7-0


INILAH kisah panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam berbagai peperangan di “Bumi Tadulako” zaham dahulu. Kesaktian yang dimiliki membuat lawan-lawannya tak berkutik dan ia berhasil membebaskan Tanah Lore, negeri Poso dari penaklukan suku-suku lainnya. Alkisah zaman dahulu, negeri Bada selalu mendapat serangan dari orang-orang Baebunta (wilayah Luwu, Sulawesi Selatan), maka atas kedidkdayaan seorang Tadulako dari Behoa, berhasil mengusir penyerang dari baebunta.


                        Cerita Rakyat Sulawesi Tengah dalam dua versi desain cover

Sejak itulah sang Tadulako dikenal sebagai kesatria, karena jasa-jasanyalah sehingga negeri Bada tidak pernah diserang suku-suku lainnya. Bahkan berhasil menciptakan perdamaian setelah terjadi perjanjian damai dengan lawan-lawannya. Namun dalam pengembaraan cinta, Sang Tadulako tak berdaya ketika seorang wanita (kekasih yang dikhianati) menumbuknya dengan alu. Tadulako yang perkasa di medan perang itu akhirnya mati tragis di tanah yang dibebaskan. Hanya seorang wanita yang mampu merobohkannya.
Itulah di antara inti cerita dalam buku MATINYA SANG TADULAKO Sehimpun Cerita Rakyat Sulawesi Tengah yang dihimpun penulis Jamrin Abubakar dari Donggala. Kisah tersebut hanyalah salah satu di antara 11 cerita rakyat yang terangkum dalam buku in yang semuanya diangkat dari legenda-legenda yang terancam punah di Sulawesi Tengah. penerbitan buku ini ditampilkan dalam dua versi perwajahan cover.

Cerita lainnya yang tak kalah serunya penuh kisah percintaan, petualangan dan tragedi kemanusiuaan yang sarat dengan pesan-pesan moral. Antara lain:

MPOLENDA YANG TERKUTUK: Mpolenda seorang pemimpin otoriter yang sulit dikalahkan dalam peperangan, sehingga bertindak sewenang-wenang menguasai segala sumber ekonomi. Selain sombong dan takabur, juga menganggap dirinya paling berkuasa. Akhirnya Mpolenda bersama istri dan anaknya mendapat kutukan jadi patung megalit. Sampai sekarang patung tersebut dapat dilihat di Desa Wanga Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

GADIS KULAVI DALAM POHON: Perburuan yang dilakukan Sadomo, pemuda dari tanah Kaili sampai ke dataran Kulavi membuatnya tersesat di tengah hutan. Meskipun tidak mendapatkan binatang buruan, tapi seorang gadis cantik keluar dari dalam pohon yang kemudian dijadikan istri dan menjadi asal-usul suku Kulavi di Kabupaten Sigi.

TUMBAL DI PULAU PELING: Berawal dari musim paceklik, mengakibatkan Baku putra seorang pemimpin adat meninggal dunia. Tetapi kemudian dari dalam kuburnya tumbuh ubi besar yang kemudian menjadi sumber makanan pokok di Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan. Konon itulah asal mula adanya Ubi Banggai yang dipercaya sebagai jelmaan dari manusia.

TRAGEDI YAMAMORE: Yamamore putri seorang Raja Towale melarikan diri dari istana demi menghindari perkawinan paksa. Dalam pelariannya, ia bersembunyi dengan cara mencemplungkan diri ke dalam telaga air asin. Maka sejak itulah Yamamore menghilang dan tempatnya dinamai pusat laut atau Pusentasi.

PERANG MAHADIYAH: Berawal dari keinginan Sang Pelaut menaklukkan Negeri Dampelas, akhirnya terjadi perlawanan dari Mahadiyah. Peperangan pun terjadi hingga telaga yang dijadikan area pertarungan kemudian menjadi Danau Dampelas di Desa Talaga.

SANG PUTRI DAN BENGGA BULA: Putri cantik dari Tanah Kaili diasingkan karena terserang penyakit cacar di tubuhnya. Dalam pengasingan itulah ia dikejar dan dijilat seekor Bengga Bula (kerbau putih), sehingga kulitnya sembuh. Sejak itu pula pihak raja dan keturunannya pantang makan daging kerbau putih.

PERKELAHIAN LABOLONG DENGAN LINDU: Berawal perkelahian Labolong (seeokor anjing raksasa) dengan Lindu (belut raksasa) di sebuah telaga kecil, akhirnya air meluap menjadi danau. Tempat tersebut kemudian dinamai Danau Lindu yang dalam bahasa setempat Lindu berarti belut.

LEGENDA SANG PALINDO: Patung megalit Palindo atau Molindo di Padang Sepe, dataran tinggi Bada yang mengisahkan tentang tokoh perlawanan terhadap serangan dari Kerajaan Luwu. Konon Palindo yang bentuk miring dengan tangah mengarah ke kelaminnya itu menunjukkan simbol persatuan orang Bada zaman dahulu tak mau ditaklukkan.

CERITA TENTANG KUCING KERAMAT: Seekor kucing menyelam ke dalam telaga mengambil jarum milik Sang Putri yang jatuh. Akibatnya, kucing itu basah kuyub dan tak lama kemudian hujan deras dan banjir datang sehingga terbentuklah sebuah danau besar. Dalam mitologi beberapa suku di Sulawesi Tengah, kucing masih disakralkan tidak boleh disakiti atau disiram karena dipercaya akan menimbulkan bencana.

PETUALANGAN SAWERIGADING DI KERAJAAN SIGI:
Saat akan dilakukan perlagaan ayam milik sang pelaut Sawerigading dengan ratu Ngilinayo, tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Memporak-porandakan negeri Lembah Kaili membuat kapal Sawerigading hancur dan banjir bandang tiba dan tanah longsor menimbun laut teluk Kaili menjadi lembah.

Buku tersebut telah terbit dan beredar dapat diperoleh di Toko Buku Ramedia, Jl. Hasanuddin, Kota Palu. *

Jumat, 31 Agustus 2012

UMAR PAPEO, LASKAR PIM DONGGALA YANG BERTUALANG DI NEGERI JIRAN


 
Kisah Umar Papeo
Meskipun penulis tidak memiliki kisah lengkap semua tokoh Laskar PIM itu, pastinya mereka memiliki riwayat cukup beragam dalam petualangan hidupnya. Seperti Umar Papeo asal Gorontalo setelah kemerdekaan, sebagai saudagar ia kemudian meninggalkan Donggala menuju Filipina dan di sana pula ia kawin dengan gadis Filipina. Informasi ini penulis dapatkan dari Aminah Mohd Nasir, salah satu cucu Umar Papeo yang kini menetap di Malaysia bersama ayahnya. “Kakek bertemu jodoh dengan orang Filipina dan dikurniakan 4 cahaya mata (semuanya masih hidup). Kakek telah kembali ke Rahmatullah sekitar bulan Maret 1963 dan dimakamkan di Pulau Sibutu, Tawi-Tawi FILIPINA,” tulis Aminah dalam jejaring sosial yang ditujukan kepada penulis.

foto Umar Papeo yang pernah menjadi Laskar PIM di Donggala (Doc. Mohd. Nasir Papeo)

Menurut kisah Aminah itu, pada tahun 1966 istri mendiang Umar Papeo kemudian hijrah ke Tawau, Kalimantan bersama anak-anaknya untuk meneruskan kehidupan, sehingga mendapat kewarganegaraan Malaysia. Kini keempat putra-putri Umar Papeo menetap di Malaysia.
Umar Papeo telah lama tiada dan demikian pula sejumlah rekan seperjuangan, tapi semangatnya harus tetap dikenang. Jangan lupakan hanya karena tak pernah diajarkan di sekolah.
 Selain itu informasi terakhir saya dapatkan di Donggala dari seorang yang cukup tua di Donggala menyatakan, ia masih sempat melihat Umar Papeo setelah kemerdekaan RI. Waktu itu Umar dikenal pula sebagai pemain sandiwara (orang panggung) dan dia hebat memainkan alat biola (viol). Jadi Umar Papeo itu selain anggota pergerakan, juga seniman di Donggala.*