Jumat, 31 Agustus 2012

UMAR PAPEO, LASKAR PIM DONGGALA YANG BERTUALANG DI NEGERI JIRAN


 
Kisah Umar Papeo
Meskipun penulis tidak memiliki kisah lengkap semua tokoh Laskar PIM itu, pastinya mereka memiliki riwayat cukup beragam dalam petualangan hidupnya. Seperti Umar Papeo asal Gorontalo setelah kemerdekaan, sebagai saudagar ia kemudian meninggalkan Donggala menuju Filipina dan di sana pula ia kawin dengan gadis Filipina. Informasi ini penulis dapatkan dari Aminah Mohd Nasir, salah satu cucu Umar Papeo yang kini menetap di Malaysia bersama ayahnya. “Kakek bertemu jodoh dengan orang Filipina dan dikurniakan 4 cahaya mata (semuanya masih hidup). Kakek telah kembali ke Rahmatullah sekitar bulan Maret 1963 dan dimakamkan di Pulau Sibutu, Tawi-Tawi FILIPINA,” tulis Aminah dalam jejaring sosial yang ditujukan kepada penulis.

foto Umar Papeo yang pernah menjadi Laskar PIM di Donggala (Doc. Mohd. Nasir Papeo)

Menurut kisah Aminah itu, pada tahun 1966 istri mendiang Umar Papeo kemudian hijrah ke Tawau, Kalimantan bersama anak-anaknya untuk meneruskan kehidupan, sehingga mendapat kewarganegaraan Malaysia. Kini keempat putra-putri Umar Papeo menetap di Malaysia.
Umar Papeo telah lama tiada dan demikian pula sejumlah rekan seperjuangan, tapi semangatnya harus tetap dikenang. Jangan lupakan hanya karena tak pernah diajarkan di sekolah.
 Selain itu informasi terakhir saya dapatkan di Donggala dari seorang yang cukup tua di Donggala menyatakan, ia masih sempat melihat Umar Papeo setelah kemerdekaan RI. Waktu itu Umar dikenal pula sebagai pemain sandiwara (orang panggung) dan dia hebat memainkan alat biola (viol). Jadi Umar Papeo itu selain anggota pergerakan, juga seniman di Donggala.*



Rabu, 18 Juli 2012

KETIKA TEATER MODERN MENYATU DALAM RITUAL BALIA

Oleh: JAMRIN ABUBAKAR
SENI tradisi Balia yang selama ini hanya dikenal sebagai ritual penyembuhan dalam masyarakat etnis Kaili yang selalu ditampilkan secara sakral sesuai tujuannya, tapi di tangan Erwin Sirajudin seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Balia telah menjadi seni pertunjukan yang tidak saling menginteraksi antara aktor-aktor teater modern dengan Topobalia (pelaku tradisi Balia) dalam satu arena pertunjukan tanpa saling mengintervensi. 
Kedahsyatan itulah yang dipertunjukan Erwin Sirajudin sang sutradara dalam naskah drama “Bali Iya” di arena Taman Budaya Sulawesi Tengah, Kota Palu, Rabu (18/7) malam yang disaksikan ratusan penonton. Pertunjukan tersebut merupakan rangkaian ujian tesis Erwin Sirajudin sebagai mahasiswa pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister seni di ISI Yogyakarta. Sejumlah seniman, aktivis seni, pemerhati dan masyarakat pencinta seni menyatu dalam kesaksian pertunjukan Bali Iya yang terkemas dalam konsep dramaturgi satu skenario.
Inti pesan dalam drama Bali Iya adanya pergulatan batin dan fisik seorang Tonadua (orang sakit) yang diperankan sang aktor Emhan Saja bersama istri (Selvina Cepi). Keaktoran Ehman bersama Selvina betul-betul penuh totalitas bukan saja memvisualkan apa yang tercakup dalam sekenario dan diinginkan sutradara, tapi sekaligus ia mampu membamngun komunikasi dengan penonton dan para Topobalia yang dipimpin Samran Daud Roca. Dialog-dialog yang dibangun dan  ekploitasi tubuh Emhan dan Cepi telah memvisualkan tentang sosok kegelisahan dan tak ada harapan untuk sembuh kalau tidak mencari alternatif.
Dalam pencariannya itulah kemudian hadir orang suci yang menurut tokoh  dokter (Mohammad Nawir Daeng Mangala) pengobatan Tonadua mesti dilakukan dengan cara khusus. Di situlah prosesi ritual adat Balia ditampilkan sesuai kelaziman dan sekaligus telah dikemas dalam skenario untuk seni pertunjukan teater modern sesuai harapan sutradara Erwin Sirajuddin, sehingga puncak agar Tonadua ini harus berubah dari kondisinya, ia melnjalani rangkaian upacara balia.
Pertunjukan tersebut berlangsung di tengah rintik hujan malam, tapi penonton rela kuyub menyaksikan bersatunya tradisi dan seni pertunjukan modern yang dikemas satu arena.
 Menurut guru besar ISI Yogyakarta, Yudiaryani yang menjadi penguji tesis Erwin, menyatakan pertunjukan seni dengan mengambil spirit dari Balia telah memberi warna dan karakter yang sangat dahsyat. Sebab mengkolaborasikan tradisi dengan pertunjukan teater modern dalam satu arena yang masing-masing saling memahami peran yang dialkoni aktor merupakan satu karya yang luar biasa. 
“Apa yang telah ditampilkan tersebut, bukan saja mampu menyedot keseriusan penonton untuk tetap menyaksikan apa yang dipertunjukan, tetapi respon masyarakat sangat apresiatif walau dalam suasana hujan tapi tetap bertahan. Ini sebetulnya salah satu keberhasilan sebuah pertunjukan mampu menyedot perhatian penonton untuk ikut berinteraksi sebagai bagian pertunjukan dan itu terlihat dalam Bali Iya tersebut,” ungkap Yudiaryani sesaat setelah pertunjukan.
Menurutnya, konsep seni tradisi Balia ini sangat menarik dan menjadi khas karena dapat dikolaborasikan ke seni pertunjukan modern yang menghasilkan satu karya kontemporer. Tidak ada benturan satu sama lainnya walau dengan latar belakang berbeda antara actor-aktor dengan pelaku tradisi itu saling mengayam atau mengisi secara indah dalam menjalankan masing-masing peran. Apalagi secara tegas pimpinan Balia menyatakan pertunjukan ini merupakan satu rahmat dengan adanya pertemuan tradisi dan modern yang dapat memberi satu kekuatan baru. 
Sementara itu Erwin Sirajuddin (38) sebagai calon magister seni menyatakankonsep pijakan untuk menyatukan ritual Balia dengan seni teater dalam penggarapan Bali Iya tentunya ada harapan lahirnya kekuatan baru. Terutama adanya kesadaran estetika dan nilai-nilai esensi kebenaran kehidupan sebagai muatan tekstual dan kontektual yang memberi solusi kebaruan dalam seni teater konvensional menjadi teater terapi masa dakan dating. Mungkinkah? (JAMRIN AB)